CERAMAH SINGKAT RAMADHAN 1447 H
(Tema : Marhaban Yā Ramadhān – Keutamaan Bulan Suci Ramadhan)
Oleh Wiwit Sulistyanto, ST – Kepala SMAS Budi Dharma Dumai
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah Subhānahu wa Ta‘ālā yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan yang penuh berkah, bulan yang mulia, yaitu Bulan Suci Ramadhan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Allah Ta‘ālā berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
Menurut tafsir Imam Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sarana untuk meraih takwa, yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Puasa mendidik jiwa agar tunduk kepada syariat dan mengendalikan hawa nafsu.
Kemudian Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…”
Para ulama seperti Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa keutamaan Ramadhan terletak pada kemuliaan waktunya, karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai hidayah bagi manusia. Maka, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an: bulan tilawah, tadabbur, dan pengamalan isi Al-Qur’an.
Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah:
“Puasa itu adalah perisai.”
Menurut penjelasan Imam An-Nawawi, makna “perisai” adalah pelindung dari maksiat di dunia dan pelindung dari azab di akhirat. Puasa menjadi benteng yang menghalangi seorang hamba dari syahwat dan dosa, jika dilakukan dengan iman dan keikhlasan.
Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Para ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hanbali menerangkan bahwa syarat ampunan dosa ini ada dua:
- Dilakukan dengan iman, yaitu meyakini kewajibannya.
- Mengharap pahala dari Allah, bukan sekadar ikut-ikutan atau rutinitas.
Hadirin yang dimuliakan Allah,Ramadhan adalah bulan dibukanya pintu surga, ditutupnya pintu neraka, dan dibelenggunya setan-setan. Maka seharusnya Ramadhan menjadi momentum untuk:
- Memperbaiki shalat,
- Memperbanyak membaca Al-Qur’an,
- Menjaga lisan dan perbuatan,
- Memperbanyak sedekah dan amal saleh,
- Memperbanyak taubat kepada Allah.
Jangan jadikan Ramadhan hanya sebagai bulan menahan lapar dan haus, tetapi jadikan Ramadhan sebagai bulan perubahan diri, dari lalai menjadi taat, dari maksiat menjadi taubat, dari malas menjadi rajin beribadah.
Penutup, marilah kita sambut Ramadhan dengan hati yang gembira dan penuh syukur, sebagaimana para salafus shalih dahulu menyambut Ramadhan dengan doa:
“Allāhumma bārik lanā fī Ramadhān.”
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan.)
Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
