Pemerintah Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha Rabu 27 Mei 2026

Berita Teraktual dan Terpercaya

(Photp Jemaah haji mengelilingi Ka'bah, bangunan kubik di Masjidil Haram, selama ibadah haji tahunan, di Mekkah, Arab Saudi, Minggu, 25 Juni 2023. (AP/Amr Nabil), From CNBC)

AspirasiMasyarakat.id – Dumai – Pemerintah Republik Indonesia melalui sidang isbat Kementerian Agama RI resmi menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H dilaksanakan pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Keputusan tersebut diumumkan setelah pelaksanaan sidang isbat yang digelar pada Minggu malam, 17 Mei 2026 di Auditorium HM Rasjidi Kementerian Agama RI, Jakarta. 

Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab dan rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan di Indonesia. Tim Hisab Rukyat Kemenag menyampaikan bahwa posisi hilal telah memenuhi kriteria imkanur rukyat MABIMS di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan ditetapkannya awal Dzulhijjah tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunnah pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang merupakan hari-hari paling mulia dalam Islam.

Adapun puasa sunnah yang dianjurkan menjelang Idul Adha adalah:

  1. Puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Dzulhijjah, bertepatan pada Senin, 25 Mei 2026.
  2. Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan pada Selasa, 26 Mei 2026.

Puasa Arafah memiliki keutamaan besar sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Selain puasa, kaum muslimin juga dianjurkan memperbanyak dzikir, takbir, tahmid, tilawah Al-Qur’an, sedekah, shalat sunnah serta amal-amal saleh lainnya.

Wiwit Sulistyanto, Mubaligh PMD sekaligus Ketua Muallaf Center BAZNAS Dumai menyampaikan bahwa sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakan momentum besar untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Allah sendiri mengabadikan kemuliaan hari-hari tersebut dalam firman-Nya pada Surah Al-Fajr ayat 2: Wa layālin ‘asyr (demi malam yang sepuluh). Para ulama tafsir, termasuk Imam Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena besarnya kemuliaan dan keberkahan di dalamnya,” ujarnya.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa sepuluh hari pertama Dzulhijjah memiliki kedudukan agung karena padanya berkumpul berbagai ibadah utama, seperti shalat, puasa, sedekah, dzikir dan ibadah haji.

Beliau juga mengingatkan hadis Rasulullah ﷺ:

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada amal saleh pada sepuluh hari ini.” (HR. Bukhari)

Para ulama, termasuk penjelasan Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, menerangkan bahwa keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat besar karena seluruh induk ibadah berkumpul di dalamnya dan tidak ditemukan secara sempurna pada hari-hari lain.

Karena itu, umat Islam diimbau untuk memanfaatkan momentum mulia ini dengan memperbanyak amal saleh, memperkuat hubungan dengan Allah SWT, serta mempersiapkan diri menyambut Hari Raya Idul Adha dengan penuh ketakwaan dan keikhlasan.

Penulis : Dawit

Exit mobile version