ASPIRASIMASYARAKAT.ID – DUMAI – Wacana kebijakan pemerintah terkait penerapan WFH, WFA dan sistem daring sebagai upaya penghematan BBM dan energi saat ini masih dalam tahap kajian. Sejumlah kalangan mulai memberikan masukan agar kebijakan ini tidak menimbulkan dampak baru di tengah masyarakat.
Wiwit Sulistyanto, ST., alumni Teknik Industri Universitas Islam Negeri Sulthan Syarif Kasim Riau yang kini menjabat sebagai Kepala Sekolah SMAS Budi Dharma Kota Dumai, menilai bahwa ide penghematan energi melalui pengurangan mobilitas memang baik, namun harus dihitung secara menyeluruh.
“Ini masih wacana, jadi harus benar-benar dikaji. Jangan sampai penghematan BBM di jalan malah berpindah menjadi beban listrik di rumah,” ujarnya.
Menurutnya, jika aktivitas kerja dan belajar dialihkan ke rumah, konsumsi BBM memang berpotensi turun. Namun penggunaan listrik, internet, dan perangkat digital akan meningkat signifikan.
“Kalau tidak dihitung secara detail, target penghematan misalnya hingga 20 persen menurut perhhitungan kasar menkeu purbaya, itu bisa tidak tercapai. Bahkan bisa jadi hanya pindah beban saja,” jelasnya.
Dampak ke Siswa: Tidak Sesederhana Beralih ke Daring
Sebagai seorang Kepala Sekolah, Wiwit menyoroti bahwa penerapan pembelajaran daring tidak bisa dianggap sebagai solusi sederhana. Ia menegaskan bahwa dalam kondisi tatap muka saja, masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
“Kalau tatap muka saja masih banyak kekurangan, apalagi kalau full atau sebagian daring. Ini harus jadi perhatian serius,” katanya.
Selain itu, ia juga mengingatkan adanya potensi dampak lain dari pembelajaran daring, di antaranya:
- Penurunan pemahaman materi karena keterbatasan interaksi langsung
- Disiplin belajar menurun, terutama bagi siswa yang kurang pengawasan
- Kesenjangan akses digital, tidak semua siswa memiliki fasilitas yang sama
- Kelelahan digital (digital fatigue) akibat terlalu lama di depan layar
“Teknologi memang penting, tapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya peran tatap muka, apalagi untuk siswa sekolah,” tambahnya.
Daring dan MBG: Tetap Ada Mobilitas dan Konsumsi BBM
Wiwit juga menyoroti sisi lain yang sering terlewat, yaitu kaitan antara pembelajaran daring dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jika pembelajaran dilakukan secara daring namun program MBG tetap berjalan, maka orang tua siswa tetap harus datang ke sekolah untuk mengambil makanan.
“Artinya tetap ada pergerakan. Orang tua tetap pakai kendaraan, tetap menggunakan BBM. Ini harus masuk dalam hitungan,” jelasnya.
Menurutnya, kondisi ini bisa mengurangi efektivitas tujuan penghematan energi yang ingin dicapai pemerintah.
Singgung Anggaran MBG Rp 335 Triliun
Dalam pandangannya, kebijakan penghematan energi juga perlu selaras dengan kebijakan anggaran negara. Ia menyinggung program MBG yang mencapai sekitar Rp 335 triliun sebagaimana disampaikan pemerintah dalam berbagai rapat kerja yang dipimpin oleh Prabowo Subianto bersama jajaran menteri.
“Program ini tentu baik untuk masa depan anak-anak kita. Tapi di sisi lain, pemerintah juga mendorong penghematan. Maka harus ada keseimbangan agar kebijakan ini tidak saling bertolak belakang,” ujarnya.
Perlu Pendekatan Hybrid dan Kajian Menyeluruh
Wiwit menyarankan agar jika kebijakan ini diterapkan, sebaiknya tidak dilakukan secara penuh. Pendekatan hybrid dinilai lebih realistis untuk menjaga keseimbangan antara efisiensi energi dan efektivitas kerja maupun pembelajaran.
“Yang penting itu bukan sekadar hemat di atas kertas, tapi benar-benar terasa di lapangan,” tegasnya.
Kesimpulan
Ia berharap pemerintah benar-benar memanfaatkan fase wacana ini untuk melakukan kajian yang matang sebelum kebijakan ditetapkan.
“Penghematan itu harus benar-benar mengurangi, bukan hanya memindahkan. Kalau tidak, maka target tidak akan tercapai dan justru menimbulkan masalah baru, baik di rumah tangga maupun di dunia pendidikan,” pungkas Wiwit.
Penulis : Dawit
