Oleh Wiwit Sulistyanto, ST (Kepala SMAS Budi Dharma Dumai)
Hari Raya Idul Fitri merupakan syi’ar besar dalam Islam yang menandai berakhirnya ibadah puasa Ramadhan. Salah satu ibadah utama pada hari tersebut adalah sholat Idul Fitri. Namun, muncul pertanyaan di tengah masyarakat :
- Bagaimana hukum melaksanakan sholat Idul Fitri sendirian atau tidak berjamaah?
- Apakah sah dan bagaimana pandangan ulama mazhab Syafi’i
Kedudukan Sholat Idul Fitri dalam Madzhab Syafi’i
Dalam mafzhab Syafi’i, sholat Idul Fitri dihukumi sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab menyatakan:
وَصَلَاةُ الْعِيدَيْنِ سُنَّةٌ عِنْدَنَا، وَبِهِ قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ
“Sholat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah sunnah menurut kami (madzhab Syafi’i), dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.”
Hukum Sholat Idul Fitri Tidak Berjamaah
Madzhab Syafi’i tidak mensyaratkan berjama’ah sebagai syarat sah sholat Idul Fitri. Artinya, seseorang tetap boleh melaksanakannya sendirian. Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Al-Majmu’:
وَتُسْتَحَبُّ الْجَمَاعَةُ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ، فَإِنْ صَلَّاهَا وَحْدَهُ جَازَ بِلا خِلَافٍ
“Disunnahkan berjama’ah dalam sholat ‘Id, namun jika seseorang melaksanakannya sendirian, maka tetap sah tanpa khilaf.”
Penegasan serupa juga terdapat dalam Mughni Al-Muhtaj karya Al-Khatib Asy-Syarbini:
وَلَا تُشْتَرَطُ الْجَمَاعَةُ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ، فَتُصَلَّى فُرَادَى
“Tidak disyaratkan berjama’ah dalam sholat ‘Id, sehingga boleh dilakukan secara sendiri-sendiri.”
Penjelasan dari Kitab Fathul Qarib
Dalam Fathul Qarib, disebutkan bahwa:
وَصَلَاةُ الْعِيدِ رَكْعَتَانِ كَسَائِرِ النَّوَافِلِ
“Sholat ‘Id itu dua rakaat seperti sholat sunnah lainnya.”
Karena statusnya adalah sholat sunnah, maka tidak disyaratkan berjama’ah, berbeda dengan sholat Jum’at.
Siapa Saja yang Boleh Sholat Sendirian
Dalam praktiknya, para ulama madzhab Syafi’i membolehkan sholat Idul Fitri dilakukan sendiri dalam kondisi seperti:
- Tidak sempat mengikuti jamaah
- Ada uzur (sakit, hujan, dll)
- Wanita yang tidak keluar rumah
- Musafir atau berada di tempat terpencil
Hal ini menunjukkan keluasan fiqih Islam dalam memberikan kemudahan.
Keutamaan Berjamaah Tetap Lebih Utama
Walaupun boleh dilakukan sendirian, berjamaah tetap lebih utama (afdhal) karena menampakkan syiar Islam. Imam An-Nawawi menyatakan:
وَالْجَمَاعَةُ فِيهَا أَفْضَلُ لِإِظْهَارِ الشِّعَارِ
“Berjama’ah dalam sholat ‘Id lebih utama karena menampakkan syiar Islam.”
Ini sesuai dengan praktik Rasulullah ﷺ yang melaksanakannya bersama kaum muslimin di lapangan.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan ulama madzhab Syafi’i:
- Sholat Idul Fitri hukumnya sunnah muakkadah
- Tidak wajib berjamaah dan bukan syarat sah
- Boleh dilakukan sendirian dan tetap sah
- Namun berjamaah lebih utama sebagai syiar Islam
Penutup
Dengan memahami fiqih berdasarkan rujukan ulama yang mu’tabar, umat Islam tidak perlu ragu ketika berada dalam kondisi tidak memungkinkan untuk berjama’ah. Islam memberikan kemudahan tanpa mengurangi nilai ibadah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah. Wallahu a’lam bish-shawab.
