Pendidikan Hari Ini: Ketika Gelar Lebih Dicari daripada Ilmu

Artikel

(Artikel Pendidikan : Pendidikan Hari Ini, Ketika Gelar Lebih Dicari daripada Ilmu)

Oleh: Wiwit Sulistyanto

Dahulu, pendidikan adalah cahaya. Hari ini, pendidikan perlahan berubah menjadi formalitas.

Kita hidup di zaman ketika gelar sering kali lebih dihormati daripada ilmu. Banyak orang berlomba-lomba menjadi sarjana, magister, bahkan doktor, tetapi tidak lagi haus untuk belajar. Seolah-olah setelah wisuda, proses pendidikan telah selesai. Padahal sejatinya, wisuda hanyalah gerbang awal untuk terus mencari ilmu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa arah pendidikan kita mulai berbalik 180 derajat. Dahulu, orang belajar karena ingin memahami kehidupan, memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi masyarakat. Kini, tidak sedikit yang belajar hanya untuk memenuhi syarat administrasi: melamar pekerjaan, mengejar jabatan atau sekadar mendapat pengakuan sosial.

Akibatnya, lahirlah budaya “yang penting lulus” dan “yang penting bergelar”. Proses belajar kehilangan ruhnya. Diskusi ilmiah mulai tergantikan oleh obsesi terhadap nilai, IPK, sertifikat dan status akademik. Bahkan di banyak tempat, ukuran keberhasilan seseorang bukan lagi kualitas pemikirannya, melainkan panjang gelar di belakang namanya.

Tulisan tentang “Ijazah, Gelar dan Ilmu” menyebutkan bahwa sebagian besar pencari ilmu hari ini lebih mementingkan hasil daripada proses, lebih mengejar ijazah daripada kedalaman ilmu. Hal yang sama juga terlihat dalam berbagai kritik terhadap dunia pendidikan tinggi yang mulai menjadikan gelar sebagai “tiket administratif”, bukan lagi simbol intelektualitas.

Lebih mengkhawatirkan lagi, pendidikan sekarang sering kali hanya menghasilkan lulusan yang pandai mencari nilai, tetapi tidak terbiasa berpikir kritis. Fenomena “IPK tinggi, mutu runtuh” menjadi kritik nyata bahwa pendidikan mulai terjebak pada pencitraan angka, bukan pembentukan kualitas manusia.

Padahal hakikat pendidikan bukan sekadar memperoleh pekerjaan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan membentuk cara berpikir, cara berbicara, adab, integritas, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial. Orang berilmu sejatinya tidak pernah merasa cukup belajar, sebab semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari luasnya pengetahuan yang belum diketahui.

Di era digital saat ini, tantangan pendidikan semakin besar. Informasi begitu mudah diakses, tetapi kedalaman berpikir justru sering hilang. Banyak orang cepat merasa pintar hanya karena memiliki gelar atau akses internet, padahal pendidikan sejati memerlukan proses panjang: membaca, berdiskusi, meneliti dan merenung.

Kita tentu tidak menolak gelar. Gelar tetap penting sebagai bentuk pengakuan akademik. Namun masalah muncul ketika gelar dijadikan tujuan akhir, bukan alat untuk terus berkembang. Gelar tanpa ilmu akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu tanpa gelar tetap dapat memberi manfaat besar bagi kehidupan.

Karena itu, sudah saatnya orientasi pendidikan dikembalikan kepada substansi. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi pabrik ijazah. Pendidikan harus kembali melahirkan manusia yang cinta ilmu, berpikir kritis, beradab dan mampu memberi solusi bagi masyarakat.

Kesimpulannya, ketika kita ingin pendidikan menjadi kebutuhan hidup, bukan sekadar prasyarat administratif, maka kita harus memahami bahwa pendidikan itu penting bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang banyak. Pendidikan bukan sekadar fitur pelengkap kehidupan, melainkan fondasi utama dalam membangun manusia dan peradaban.

Exit mobile version