Guru adalah Profesi yang Menjadi Fondasi dari Segala Profesi

Artikel

(Photo Para Guru Menyambut Siswa-siswi di Depan Pagar Sekolah)

Oleh Wiwit Sulistyanto, ST – Pendidik / Guru

Mengapa harus menjadi guru? Gajinya kecil, kurang dihormati pula.

Kalimat seperti ini bukan sesuatu yang asing. Bahkan di Kota Dumai tempat saya tinggal, saya beberapa kali mendengar celutukan dari peserta didik ketika ditanya tentang cita-citanya. Sebagian menjawab bahwa mereka tidak ingin menjadi guru. Alasannya hampir sama. Pertama, mereka merasa profesi guru saat ini kurang mendapatkan penghormatan sebagaimana dahulu. Kedua, mereka memandang penghasilan guru belum sebanding dengan tanggung jawab yang diemban.

Tentu, pandangan tersebut tidak mewakili semua siswa. Namun, jika semakin sering muncul, hal ini patut menjadi bahan refleksi bersama. Sebab ketika generasi muda mulai enggan menjadi guru, sesungguhnya kita sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pilihan profesi. Kita sedang menghadapi tantangan regenerasi pendidik bangsa.

Ironisnya, guru adalah profesi yang mempersiapkan semua profesi lainnya. Tidak ada dokter tanpa guru. Tidak ada insinyur tanpa guru. Tidak ada hakim tanpa guru. Tidak ada pengusaha tanpa guru. Bahkan tidak ada presiden tanpa guru yang pernah mengajarkan huruf, angka, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan.

Namun dalam praktiknya, guru Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Selain mengajar, guru harus menyelesaikan berbagai administrasi, menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum, memanfaatkan teknologi digital, membimbing karakter peserta didik, hingga menjalin komunikasi dengan orang tua. OECD melalui Teaching and Learning International Survey (TALIS) menunjukkan bahwa meningkatnya beban kerja dan tuntutan administratif menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kesejahteraan dan stres guru di berbagai negara.

Di sisi lain, guru Indonesia juga menunjukkan kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Penelitian nasional terhadap ratusan guru K-12 menemukan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pembelajaran terus meningkat. Guru mulai menggunakan AI untuk menyusun perangkat ajar, membuat media pembelajaran, hingga membantu penyusunan evaluasi. Sayangnya, adopsi tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan pelatihan, infrastruktur, dan kualitas hasil yang sesuai dengan konteks pendidikan Indonesia.

Jika dibandingkan dengan Vietnam—negara Asia Tenggara yang memiliki karakteristik ekonomi dan budaya yang relatif dekat dengan Indonesia—terdapat pelajaran yang menarik. Data OECD TALIS 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 90% guru di Vietnam merasa profesinya dihargai oleh masyarakat, tingkat kepuasan kerja mereka sangat tinggi, dan tingkat stres kerja yang berat relatif rendah. Salah satu faktor utamanya bukan semata-mata besarnya pendapatan, tetapi adanya budaya menghormati guru, dukungan pemerintah terhadap pengembangan profesi, serta tingginya kepercayaan masyarakat kepada sekolah.

Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Apabila Indonesia ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, maka pembangunan guru harus menjadi prioritas utama. Ada beberapa langkah yang perlu terus diperkuat, yaitu :

  • Meningkatkan kesejahteraan guru secara adil agar mereka dapat fokus pada tugas utama sebagai pendidik.
  • Mengurangi beban administrasi yang tidak berkaitan langsung dengan proses pembelajaran, sehingga waktu guru lebih banyak untuk mendidik.
  • Menyediakan pelatihan berkelanjutan, terutama dalam bidang teknologi, kecerdasan buatan, dan metode pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
  • Mengembalikan marwah profesi guru melalui budaya menghormati guru yang ditanamkan sejak keluarga, sekolah, hingga masyarakat.
  • Memberikan perlindungan hukum dan dukungan psikologis kepada guru agar mereka dapat menjalankan tugas secara profesional tanpa rasa takut.

Guru tidak membutuhkan penghormatan yang berlebihan. Mereka hanya ingin dihargai sebagaimana profesi-profesi penting lainnya. Sebab, ketika seorang guru berdiri di depan kelas, sesungguhnya ia sedang membentuk masa depan bangsa.

Sudah saatnya kita berhenti memandang guru sebagai profesi pilihan terakhir. Sebaliknya, guru harus menjadi profesi yang membanggakan, karena kualitas suatu bangsa tidak akan pernah melampaui kualitas guru-gurunya.

Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Hormati guru, dukung guru, dan berikan ruang bagi mereka untuk terus berkembang. Sebab setiap keberhasilan seorang anak, seorang ilmuwan, seorang pemimpin, atau seorang profesional, selalu ada jejak seorang guru di belakangnya.

“Guru adalah profesi yang menjadi fondasi dari segala profesi. Maka sudah sepantasnya profesi ini memperoleh penghormatan, kesejahteraan, dan perhatian yang istimewa. Karena ketika guru dimuliakan, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan bangsa.”

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *