Oleh: Wiwit Sulistyanto, S.T.
Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu syiar agung dalam Islam yang mengandung begitu banyak pelajaran berharga bagi kehidupan seorang muslim. Ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, tetapi menjadi simbol ketundukan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semua itu tergambar dengan sangat jelas dalam kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam.
Kisah ini dimulai ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah lama mendambakan keturunan. Di usia yang tidak lagi muda, beliau terus berdoa kepada Allah agar diberikan seorang anak yang saleh. Allah kemudian mengabulkan doa tersebut dengan memberikan kabar gembira lahirnya Nabi Ismail ‘alaihissalam, seorang anak yang kelak menjadi nabi dan teladan dalam kesabaran serta ketaatan.
Namun, setelah kebahagiaan itu hadir, Allah memberikan ujian yang sangat berat kepada Nabi Ibrahim. Dalam mimpi, beliau diperintahkan untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya itu. Sebagai seorang nabi, beliau memahami bahwa mimpi tersebut adalah wahyu dari Allah yang wajib dilaksanakan.
Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah itu kepada putranya. Betapa luar biasanya jawaban Nabi Ismail ‘alaihissalam. Beliau tidak menolak, tidak membantah, dan tidak marah. Justru beliau berkata:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Jawaban tersebut menunjukkan tingginya tingkat keimanan dan ketakwaan Nabi Ismail ‘alaihissalam. Ayah dan anak itu sama-sama menunjukkan ketundukan total kepada Allah Ta’ala. Ketika keduanya telah siap melaksanakan perintah tersebut, Allah menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengganti Nabi Ismail dengan seekor sembelihan yang besar.
Dari kisah agung ini, ada banyak ibroh atau pelajaran yang dapat kita ambil. Pertama, setiap ujian yang Allah berikan pasti memiliki hikmah yang besar. Semakin besar ujian, semakin besar pula peluang mendapatkan kemuliaan di sisi Allah.
Kedua, ketaatan kepada Allah harus ditempatkan di atas segala-galanya. Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus melebihi cinta kepada harta, keluarga, bahkan kepada anak yang sangat dicintai.
Ketiga, kesabaran dan keikhlasan akan menghadirkan pertolongan Allah. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tidak mempertanyakan keputusan Allah, tetapi mereka menerimanya dengan penuh iman dan ketundukan.
Keempat, ibadah kurban mengajarkan kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat menjadi bentuk nyata kasih sayang dan persaudaraan dalam Islam.
Oleh karena itu, Idul Adha hendaknya menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan, memperkuat keikhlasan, dan memperbesar kepedulian terhadap sesama. Semoga kita semua mampu meneladani keimanan, pengorbanan, dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ‘alaihimas salam.
Wallahu a’lam bish-shawab.











