CERAMAH SINGKAT RAMADHAN 1447 H – Tema : Puasa dan Pengendalian Diri

Artikel Islami

(Ilustrasi Judul - aspirasimasyarakat.id)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jamaah yang dirahmati Allah,
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Secara bahasa, shaum berarti imsāk — yaitu menahan dan mengendalikan diri. Maka puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi menahan seluruh anggota badan dari perbuatan yang dilarang Allah.

Pengendalian diri dalam puasa diarahkan kepada dua hal:

  • Agar tidak membatalkan puasa secara hukum, seperti makan dan minum
  • Agar tidak menghilangkan pahala puasa, seperti berdusta, marah, ghibah dan maksiat lainnya.

Karena itu, orang bisa saja sah puasanya, tetapi kosong pahalanya, jika tidak menjaga diri dari dosa.

Tujuan puasa ada dua:

  • “La‘allakum tattaqūn” — agar kita menjadi orang yang bertakwa.
  • Agar amalan Ramadhan menjadi kebiasaan di luar Ramadhan, sehingga shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an dan akhlak baik tetap istiqamah setelah Ramadhan berlalu.

Tentang bagaimana agar puasa kita sempurna, Imam Al-Ghazali di dalam Kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa kesempurnaan puasa dijaga dengan:

  • Menjaga mata dari melihat yang haram
  • Menjaga telinga dari mendengar keburukan
  • Menjaga lisan dari dusta, ghibah, dan ucapan sia-sia
  • Menjaga makanan dari yang haram dan syubhat

Inilah makna puasa yang hakiki, yaitu mengendalikan diri lahir dan batin.

Jamaah yang dirahmati Allah. Puasa bukan hanya latihan satu bulan, tetapi pendidikan seumur hidup. Semoga puasa kita menjadi puasa yang penuh berkah, menjadikan kita pribadi yang mampu mengendalikan diri, bukan hanya di bulan suci Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan setelahnya.

Mudah-mudahan Allah menerima puasa kita dan menjadikannya jalan menuju ketakwaan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *