(Kutipan Khutbah Idul Fitri 1447 H oleh Ustadz Wiwit Sulistyanto (Kepala SMAS Budi Dharma) di Masjid Nurul Yaqin BTN Dumai Baru)
Dumai – Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah bukan sekedar momentum kemenangan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, tetapi juga menjadi titik awal untuk menjaga dan melanjutkan nilai-nilai kebaikan yang telah ditanamkan selama bulan suci Ramadhan.
Dalam khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Wiwit Sulistyanto di Masjid Nurul Yaqin, beliau menekankan bahwa terdapat lima nilai utama Ramadhan yang harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Nilai pertama dan paling mendasar adalah taqwa kepada Allah SWT.
Hakikat Taqwa: Buah dari Ketaatan Sejati
Ramadhan telah melatih umat Islam untuk mencapai derajat taqwa. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama dari ibadah puasa adalah membentuk pribadi yang bertaqwa. Selama Ramadhan, seorang muslim mampu menahan diri dari makan dan minum di siang hari, bahkan meninggalkan hubungan suami istri yang pada dasarnya halal. Semua itu dilakukan semata-mata karena ketaatan dan rasa takut kepada Allah SWT.
Dalam khutbahnya, Ustadz yang sehari-hari bertugas sebagai Kepala SMAS Budi Dharma tersebut menjelaskan bahwa inilah bukti nyata bahwa manusia sebenarnya mampu untuk taat secara total kepada Allah SWT. Ketika Allah memerintahkan, maka seorang hamba yang beriman akan patuh, meskipun harus meninggalkan hal-hal yang ia sukai.
Taqwa Tidak Berhenti di Bulan Ramadhan
Namun, yang menjadi pertanyaan besar adalah: apakah nilai taqwa tersebut berhenti setelah Ramadhan berlalu?
Allah SWT kembali menegaskan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Rasulullah SAW juga bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan bahwa taqwa tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Ia harus hadir dalam setiap aktivitas dan kondisi kehidupan seorang muslim.
Implementasi Taqwa dalam Kehidupan
Dalam penjelasannya, Ustadz Wiwit juga menegaskan bahwa indikator keberhasilan Ramadhan adalah ketika nilai taqwa tersebut mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
- Seorang istri yang bertaqwa akan menjaga kehormatan dirinya untuk suaminya.
- Seorang suami akan menjaga dirinya dan menjadi teladan yang baik bagi keluarganya.
- Seorang anak perempuan akan menjaga aurat dan kehormatannya demi membahagiakan orang tuanya.
- Seorang pemimpin akan berusaha mensejahterakan rakyatnya dengan penuh amanah.
- Semua peran ini menunjukkan bahwa taqwa harus hidup dalam setiap lini kehidupan.
Taqwa dalam Pandangan Ulama
Imam Imam An-Nawawi menjelaskan:
التَّقْوَى هِيَ امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللَّهِ وَاجْتِنَابُ نَوَاهِيهِ
“Taqwa adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”
Sementara Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan:
حَقِيقَةُ التَّقْوَى أَنْ يَجْعَلَ الْعَبْدُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ مَا يَخَافُهُ مِنْ رَبِّهِ وِقَايَةً بِفِعْلِ طَاعَتِهِ وَتَرْكِ مَعْصِيَتِهِ
“Hakikat taqwa adalah seorang hamba menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takutkan dari Rabb-nya sebagai pelindung, yaitu dengan melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan.”
Penutup
Ramadhan telah berlalu, namun nilai-nilainya tidak boleh ikut pergi. Taqwa yang telah dilatih selama sebulan penuh harus terus dijaga dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana yang ditekankan dalam khutbah Idul Fitri oleh Ustadz Wiwit, keberhasilan seorang muslim bukan hanya terlihat saat Ramadhan, tetapi justru setelahnya, apakah ia mampu mempertahankan ketaatan tersebut dalam setiap sendi kehidupan.
Taqwa yang sejati adalah ketika ketaatan kepada Allah SWT hadir di setiap waktu, keadaan, dan peran kehidupan.
(Bersambung ke bagian 2: Mencintai Sesama Manusia)









