Perbedaan Penetapan 1 Syawal 1447 H, Kyai Muhammad Cholil Nafis: Penentuan Lebaran Tetap Menunggu Sidang Isbat

Berita Teraktual dan Terpercaya

(Photo Kyai Cholil Nafis)

Aspirasimasyarakat.id – Dumai – Penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah / 2026 Masehi mulai memunculkan perbedaan di tengah masyarakat. Beberapa organisasi Islam telah menetapkan tanggal yang berbeda, sehingga memunculkan pertanyaan di kalangan umat: kapan sebenarnya Lebaran tahun ini?

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sekaligus dosen, Muhammad Cholil Nafis, memberikan penjelasan mengenai posisi hilal dan kemungkinan penentuan awal Syawal. Penjelasan tersebut disampaikan melalui laman Facebook resminya.

Menurutnya, saat ini memang sudah terlihat adanya perbedaan penetapan. Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026, sementara Persatuan Islam menetapkan 1 Syawal 1447 H pada 21 Maret 2026.

Posisi Hilal di Indonesia

Kyai Cholil Nafis menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan ilmu falak, ijtima’ atau pertemuan Matahari dan Bulan akan terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.25 WIB. Setelah Matahari terbenam pada hari tersebut, posisi hilal sebenarnya sudah berada di atas ufuk. Namun ketinggiannya masih sangat rendah.

“Di banyak wilayah Indonesia tinggi hilal hanya sekitar 1–2 derajat dan bertahan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam, sehingga secara umum sangat sulit terlihat dengan mata,” jelasnya.

Aceh Menjadi Wilayah dengan Posisi Hilal Terbaik

Ia menambahkan bahwa wilayah dengan posisi hilal paling memungkinkan untuk diamati di Indonesia adalah Aceh. Di daerah tersebut, tinggi hilal diperkirakan sekitar 2° 51’ dengan elongasi sekitar 6° 09’. Hal ini menunjukkan bahwa bulan sudah berada di atas ufuk dan jaraknya dari matahari mulai terbuka.

Namun demikian, kondisi hilal masih sangat tipis sehingga kemungkinan terlihat tetap kecil.

Masih di Bawah Kriteria Imkanur Rukyah

Di Indonesia sendiri digunakan kriteria imkanur rukyah MABIMS, yakni minimal tinggi hilal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat agar secara ilmiah dianggap memungkinkan terlihat. Sementara itu, berdasarkan hasil hisab di Aceh, tinggi hilal 2,51° dan elongasi 6,09°, yang berarti masih sedikit di bawah batas kriteria tersebut.

“Karena selisihnya sangat kecil, para perukyat tetap melakukan pengamatan. Namun kemungkinan terlihatnya masih sangat tipis,” ungkapnya.

Menunggu Keputusan Pemerintah

Kyai Cholil Nafis menegaskan bahwa secara hisab hilal memang sudah berada di atas ufuk, tetapi di hampir seluruh wilayah Indonesia masih terlalu rendah. Bahkan di Aceh yang memiliki posisi terbaik sekalipun masih sedikit di bawah kriteria imkanur rukyah.

Oleh karena itu, penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal di lapangan serta keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat. Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 H.

Penulis : Dawit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *