ASPIRASIMASYARAKAT.ID – Dumai – Tanjung Palas, 24 April 2026 – Kebakaran lahan yang terjadi sejak 18 April 2026 di Kelurahan Tanjung Palas hingga kini masih menjadi perhatian serius. Api dilaporkan telah melahap lebih dari 100 hektare lahan, dengan sedikitnya empat titik lokasi kebakaran yang tersebar di wilayah tersebut.
Tidak hanya merusak lahan, kebakaran ini juga berdampak pada sektor peternakan warga. Dilaporkan lebih dari 1.500 ekor ayam milik warga mati terbakar akibat ganasnya kobaran api yang sulit dikendalikan.
Salah satu warga, Jon Akmal, mengaku sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Ia menuturkan bahwa api yang begitu besar membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit dilakukan.
“Kami tidak bisa berbuat banyak, api sangat besar dan cepat menyebar. Akibatnya ayam-ayam mati karena terjebak dalam kandang dan tidak sempat diselamatkan,” ungkapnya.

Diketahui, sebanyak 1.500 ekor ayam potong milik Prita Priska Br Seragai dilaporkan mati akibat terpapar panas ekstrem dan asap tebal dari kebakaran yang melanda area sekitar kandang.
Upaya pemadaman terus dilakukan oleh berbagai pihak, namun di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala. Lurah Tanjung Palas, Hermanto, saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa proses pemadaman belum berjalan maksimal akibat keterbatasan sarana dan prasarana.
“Kami masih terkendala dengan minimnya peralatan pemadam, seperti mesin dan selang. Ini sangat mempengaruhi kecepatan dan efektivitas penanganan di lapangan,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA), Suharyanta yang akrab disapa Ahok, menegaskan bahwa pihaknya bersama unsur kelurahan, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas terus berjibaku memadamkan api yang belum sepenuhnya terkendali.
“Kami terus berupaya semaksimal mungkin di lapangan. Bersama pihak kelurahan dan aparat, kami bekerja tanpa henti untuk memadamkan api,” ungkapnya.
Namun demikian, ia juga mengungkapkan bahwa upaya tersebut belum mendapatkan dukungan optimal dari pihak-pihak terkait, khususnya perusahaan yang berada di sekitar wilayah terdampak.
“Pemadaman ini terbentur dengan kurangnya dukungan, terutama dari pihak perusahaan. Kami berharap ada komitmen bersama antara pemerintah daerah dan perusahaan untuk turut membantu penanganan kebakaran ini,” tambahnya.
Ahok juga menyoroti kondisi MPA yang selama ini bekerja tanpa dukungan anggaran maupun honorarium. Meski demikian, para anggota tetap menunjukkan dedikasi tinggi dalam menjalankan tugasnya.
“MPA tidak memiliki biaya dan anggaran, bahkan tidak ada honor. Tapi kami tetap berusaha maksimal demi memadamkan api. Kami hanya berharap adanya perhatian dan dukungan penuh dari semua pihak, baik pemerintah maupun perusahaan,” tegasnya.
Hingga saat ini, proses pemadaman masih terus berlangsung. Diharapkan adanya sinergi dan dukungan yang lebih kuat dari seluruh pihak agar kebakaran dapat segera dikendalikan dan tidak meluas ke wilayah lainnya.
Editor : Dawit









